Kamis, 03 Mei 2018

Sanggah tempat suci pada setiap rumah di Bali



Didalam budaya Hindu khususnya di Bali, salah satu tempat untuk sembahyang disebut Sanggah Pemerajan. Sanggah Pemerajan berasal dari kata Sanggah yang berarti Sanggar (tempat suci), Pemerajan yang berasal dari kata praja (keluarga).Jadi Sanggah Pameraja dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu.

Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.Akan tetapi yang perlu diingat  tidak berarti bahwa Sanggah untuk orang Jaba, sedangkan Merajan untuk Triwangsa. Yang satu ini kekeliruan di masyarakat sejak lama, perlu diluruskan.

Sejarah Sanggah Pemerajan

Dalam sejarah pembangunan Sanggah Pemerajan, terdapat tiga versi. Yaitu sebagai berikut:

1. Sanggah Pemerajan dengan konsep Mpu Kuturan (Trimurti)
Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Kemulan (Rong Tiga, Dua, Satu), tidak mempunyai pelinggih Padmasana/ Padmasari. Kemulan yang dikembangkan oleh Mpu Kuturan sejak abad ke-11 adalah Kemulan Rong 3. Di dalam lontar Tutur Kuturan disebutkan bahwa Kemulan Rong 3 adalah stana Sanghyang Tiga Sakti (Brahma, Wisnu, Siwa) sedangkan di ‘Batur Kemulan’ ruangan di bawah Rong 3 adalah stana roh para leluhur yang sudah disucikan (pitra yadnya)

2. Sanggah Pemerajan dengan konsep Danghyang Nirarta (Tripurusha)

Pelinggih yang letaknya di ‘hulu’ (kaja-kangin) adalah pelinggih Padmasana/ Padmasari, sedangkan pelinggih Kemulan tidak berada di Utama Mandala. Kemulan yang dikembangkan oleh Danghyang Nirata adalah Kemulan Rong 2 sejak abad ke-14. Di mana distanakan Ida Sanghyang Widhi sebagai ‘arde nareswari’ = rua bhineda (lontar Dwijendra Tattwa). Oleh karena itu maka di setiap perumahan agar dibangun tempat suci keluarga, terdiri dari pelinggih-pelinggih: Padmasari (Tripurusha), Kemulan R3 (Trimurti), Taksu (Saraswati), dan di pekarangan ada pelinggih Sedahan Karang (Bhatara Kala). Acuannya Lontar Gong Besi dan Lontar Sundarigama.

3. Sanggah Pemerajan dengan kombinasi keduanya.

Biasanya dibangun setelah abad ke-14, maka pelinggih Padmasana/ Padmasari tetap di ‘hulu’, namun di sebelahnya ada pelinggih Kemulan.
Dalam sejarah ada yang menyebutkan bahwa Mpu Kuturan dan Danghyang Nirarta mendapatkan wahyu mengenai konsep itu di Purancak/ Jembrana.

Apakah itu Trimurti dan Tripurusha? Penjelasannya adalah sebagai berikut:

Trimurti adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Ang – Ung – Mang (AUM = OM) atau Brahma, Wisnu, Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi horizontal, di mana Brahma di arah Daksina, Wisnu di Uttara, dan Siwa di Madya.

Tripurusha adalah keyakinan stana Sanghyang Widhi sesuai dengan Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa, adalah kedudukan Sanghyang Widhi dalam posisi vertikal, di mana Parama Siwa yang tertinggi kemudian karena terpengaruh Maya menjadilah Sada Siwa, dan Siwa.

Pembagian Sanggah Pemerajan
Sanggah Pemerajan dapat dibedakan menjadi 3, yaitu sebagai berikut:
  1. Sanggah Pamerajan Alit (milik satu keluarga kecil)
  2. Sanggah Pamerajan Dadia (milik satu soroh terdiri dari beberapa ‘purus’/ garis keturunan)
  3. Sanggah Pamerajan Panti (milik satu soroh terdiri dari beberapa Dadia dari lokasi Desa yang sama)
Sedangkan untuk Pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan, yaitu sebagai berikut
  1. Sanggah Pamerajan Alit : Padmasari, Kemulan Rong Tiga, Taksu
  2. Sanggah Pamerajan Dadia : Padmasana, Kemulan Rong Tiga, Limas Cari, Limas Catu, Manjangan Saluang, Pangrurah, Saptapetala, Taksu, Raja Dewata
  3. Sanggah Pamerajan Panti : Sanggah Pamerajan Dadia ditambah dengan Meru atau Gedong palinggih Bhatara Kawitan
Pelinggih-pelinggih umum yang ada di Sanggah Pemerajan merupakan stana dalam niyasa Sang Hyang Widhi dan para roh leluhur yang dipuja. Penjelasan yang stana pada setiap pelinggih sebagai berikut:
  • Kemulan Rong Tiga yaitu Sanghyang Trimurti, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Brahma – Wisnu – Siwa atau disingkat Bhatara Hyang Guru . Selain itu juga ada kemulan rong 1 (Sanghyang Tunggal), rong 2 (Arda nareswari), rong 4 (Catur Dewata), rong lima (Panca Dewata).
  • Padmasana/ Padmasari yaitu Sanghyang Tri Purusha, Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Siwa – Sada Siwa – Parama Siwa.
  • Sapta Petala yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai pertiwi dengan tujuh lapis: patala, witala, nitala, sutala, tatala, ratala, satala.  Sapta petala juga berisi patung naga sebagai simbol naga Basuki, pemberi kemakmuran.
  • Taksu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai Bhatari Saraswati (sakti Brahma) penganugrah pengetahuan.
  • Limascari dan  Limascatu yaitu Sanghyang Widhi dalam manifestasi sebagai ardanareswari: pradana – purusha, rwa bhineda.
  • Pangrurah yaitu Sanghyang Widhi sebagai manifestasi Bhatara Kala, pengatur kehidupan dan waktu.
  • Manjangan Saluwang yaitu Pelinggih sebagai penyungsungan Mpu Kuturan, mengingat jasa-jasa beliau yang meng-ajegkan Hindu di Bali.
  • Raja-Dewata yaitu Pelinggih roh para leluhur (di bawah Bhatara Kawitan).
Nah itulah sedikit pemaparan tentang sanggah/ merajan yang ada dibali, semoga bermanfaat suksema….

sumber:  http://inputbali.com/budaya-bali/sejarah-dan-pengertian-sanggah-pemerajan

Tari Barong


Tarian satu ini merupakan tarian tradisional yang menggunakan topeng dan kostum sebagai perwujudan roh pelindung masyarakat Bali. Namanya adalah Tari Barong.


Tari Barong adalah salah satu tarian tradisional yang menggunakan media topeng dan kostum sebagai perwujudan dari makhluk-makhluk yang dipercaya oleh masyarakat Bali. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, Tari Barong ini dianggap kesenian yang sakral sehingga terdapat juga kesan mistis di dalamnya. Tari Barong ini merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Bali. selain memiliki nilai seni, Tari Barong ini juga memiliki makna-makna spiritual di dalamnya.

1)      Sejarah Tari Barong

Asal usul dari Tari Barong ini masih belum ketahui secara pasti, namun ada beberapa versi sejarah yang menceritakan tentang sejarah tentang awal terbentuknya Tari Barong ini. Pertama dari mitologi Hindu yang menjelaskan bahwa barong diambil dari kata Bahruang dalam bahasa sansekerta merupakan binatang yang dianggap memiliki kekuatan gaib dan sering disebut sebagai pelindung kebaikan.

Ada juga yang menyebutkan, Tari Barong awalnya merupakan perwujudan dari penguasa alam gaib yang ada di Bali. Pada saat itu masyarakat Bali menggunakan Tari Barong ini untuk mengusir gangguan makhluk gaib yang ada disana. Walaupun banyak versi yang menyebutkan tentang sejarah Tari Barong ini, masyarakat Bali masih mempercayai bahwa Tari Barong merupakan warisan nenek moyang yang dianggap sakral dan memiliki nilai-nilai spiritual di dalamnya.

2)      Fungsi Tari Barong

Tari Barong ini selain sifatnya yang sakral juga bisa menjadi hiburan bagi masyarakat. Untuk Tari Barong yang ditampilkan sebagai bagian dari upacara di Pura, biasanya dilakukan dengan serius. Karena berhubungan dengan makna spiritual yang ada sehingga dilakukan secara sakral. Sedangkan Tari Barong yang ditampilkan untuk hiburan, biasanya diselingi dengan adegan-adegan yang lucu. Selain itu ada juga penampilan atraktif dari penari seperti pertunjukan ilmu kekebalan yang membuat decak kagum para penonton.

3)      Pertunjukan Tari Barong

Dalam pertunjukan Tari Barong, penari menggunakan kostum dan topeng menggambarkan perwujudan dari hewan atau raksasa yang dipercaya sebagai pelindung. Di Bali sendiri ada beberapa jenis Tari Barong yang biasa ditampilkan diantaranya seperti barong ket, barong bangkal, barong gajah, barong asu, barong brutuk, barong landung, barong macan dan barong kedingkling. Setiap jenis barong tersebut tentunya memiliki cerita dan cara menari yang berbeda-beda.

Namun yang paling sering ditampilkan untuk para wisatawan disana adalah barong ket, karena memiliki kostum dan tarian yang lengkap. Dalam tari barong ket ini, tariannya di kemas dalam sebuah drama atau cerita tradisional yang menceritakan tentang pertarungan abadi antara kebaikan dan kejahatan. Pertunjukan tari barong ket ini biasanya ditampilkan dengan selingan unsur humor yang dapat membuat penonton terhibur. Selain itu juga diiringi dengan gamelan khas Bali yang membuat pertunjukan semakin meriah dan lebih hidup.

4)      Kostum Tari Barong

Kostum yang digunakan setiap jenis Tari Barong berbeda-beda, karena setiap jenis barong memiliki perwujudannya sendiri-sendiri. Untuk kostum barong ket, merupakan perpaduan antara singa, harimau, dan lembu. Kostum barong ket ini biasanya digunakan oleh dua orang penari, sama halnya dengan barongsai namun bentuk kostumnya berbeda.

Pada bagian badan dihiasi dengan ornamen dari kulit, potongan kaca atau cermin, dan bulu-bulu yang terbuat dari serat tanaman jenis pandan atau bulu gagak. Sedangkan pada bagian kepala menggunakan topeng yang terbuat dari kayu. Kayu yang digunakan untuk membuat topeng Tari Barong ini merupakan kayu khusus yang biasanya diambil dari tempat angker. Karena itulah kostum Tari Barong dianggap benda yang sakral.

5)      Perkembangan Tari Barong

Tari Barong ini merupakan tarian tradisional yang cukup terkenal di Bali. Dalam perkembangannya, tarian ini sekarang tidak hanya dipertunjukan untuk masyarakat lokal dalam acara tertentu saja, namun juga ditampilkan dalam berbagai acara kepariwisataan. Selain sebagai bagian daya tarik wisata, hal ini juga merupakan suatu wujud usaha masyarakat Bali dalam melestarikan tradisi dan budaya mereka.

Sekian pengenalan tentang “Tari Barong Tarian Tradisional Dari Bali”. Semoga bermanfaat dan menambah pengetahuan anda tentang ragam kesenian tradisional di Indonesia.
 
sumber:  http://www.negerikuindonesia.com/2015/09/tari-barong-tarian-tradisional-dari-bali.html